500 PENYAMAK KULIT DI SUKAREGANG GARUT GULUNG TIKAR

Kamis, 10 September 2009

Garut, (PR).-
Sekitar lima ratus perajin penyamakan kulit Sukaregang Kelurahan Kota Wetan Kec. Garut Kota gulung tikar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penyamak tersebut beralih menjadi tukang ojek.

Keterangan yang dikumpulkan "PR" Kamis (19/3) kemarin menyebutkan, bangkrutnya para penyamak kulit tersebut karena terimbas krisis global, yang hingga saat ini masih dirasakan dampaknya oleh para penyamak, terutama penyamak kulit kelas menengah ke bawah.

Menurut Hilman Kusuma (33), penyamak kulit di Kampung Gagak Lumayung Kel. Kota Wetan Kec. Garut Kota, usaha penyamakan kulit yang diwariskan orang tuanya itu kini tidak lagi bisa dilanjutkan karena jasa sewa mesin untuk proses produksi penyamakan kulit di kawasan itu naik hingga 40 persen.

"Biaya sewa mesin untuk proses penyamakan yang dikoordinasi oleh para pengusaha besar di Sukaregang meningkat dari harga biasanya Rp 95.000,00 untuk pencelupan kulit atau sekitar dua belas jam dengan kapasitas seratus lembar kulit domba, dan kini menjadi Rp 150.000,00. Sementara itu, pengovenan dari harga Rp 150.000,00 menjadi Rp 200.000,00," katanya.

Selain itu, harga obat-obatan untuk proses penyamakan kulit, lanjut Hilman, secara keseluruhan obat itu harus diimpor dari luar negeri. Dengan demikian, harga obat-obatan tersebut disesuaikan dengan harga dolar.

Ditambahkannya, selain obat-obatan yang terus melambung tinggi, bahan baku kulit mentah (kulit domba-red.) selain sulit didapat, harganya pun terus melonjak dari Rp 35.000,00 per lembar kini mencapai Rp 60.000,00 hingga Rp 70.000,00 per lembar.

Sementara itu, harga kulit setelah proses penyamakan masih tetap di kisaran Rp 4.5000,00 per kaki sehingga banyak perajin yang terus merugi dan akhirnya harus gulung tikar, terutama perajin penyamak kalangan bawah.

"Penyamak seperti saya ini jangankan untuk mengambil keuntungan, untuk kembali modal saja masih jauh sehingga kami tidak lagi bisa beroperasi untuk penyamakan alias gulung tikar," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, kini ratusan penyamak kulit Sukaregang banyak yang berpindah profesi yakni sebagai tukang ojek di kawasan Jln. Sudirman dan Gagak Lumayung.

"Sebab untuk merajut kembali usaha penyamakannya itu membutuhkan modal yang tidak sedikit, namun hasilnya belum tentu menguntungkan," tutur Hilman. (A-14)***

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jum'at 20 Maret 2009

0 komentar:

Poskan Komentar